Cari Blog Ini

Kamis, 19 Januari 2012

HPP

Pergeseran HPP Broiler
Date: Thursday, December 06 @ 08:17:43 WIT
Topic: Dari Redaksi PI


www.poultryindonesia.com. HPP (Harga Pokok Produksi) dapat diartikan sebagai biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan 1 kilogram daging ayam broiler. Kalau dijabarkan, ada banyak komponen harga yang menyusun HPP, antara lain : bibit, pakan, obat, tenaga kerja, brooding, listrik, sekam dan air.

Jangan sampai ketinggalan dalam perhitungan ini yaitu biaya penyusutan kandang. Ini perlu dihitung karena dalam perjalanannya kandang open house ini punya batas masa pakai –yaitu sekitar 5 tahun, sehingga selayaknya harus ada anggaran untuk memperbaruinya kembali. Nah, di antara beragam komponen yang telah disebutkan di atas, bisa dikatakan kalau porsi terbesar yang menentukan adalah pakan dan DOC –sekitar 90% HPP. 

Sementara dari sudut budidaya, pola yang dapat digambarkan sebagai berikut : harga DOC cenderung berfluktuasi sedangkan pakan cenderung naik.  Sementara dari sisi pasar, harga jual daging selama ini menunjukkan gonjang ganjing harga yang tidak berkesudahan.
Perhitungan bisnis broiler ini diawali dari berhitung HPP (Harga Pokok Produksi). Dari sinilah peternak berhitung keuntungan yang bakal diraup dalam setiap periode pemeliharaan, dengan melihat seberapa besar selisihnya terhadap harga ayam panen (ex-farm). Kalau positif berarti untung, tapi kalau sebaliknya berarti peternak sedang rugi.

Apabila dilihat dari penunjang biaya produksi, persentase komponennya sudah tidak  seperti dulu lagi (lihat tabel). Pakan misalnya, harganya sudah bergerak naik melebihi tahun-tahun sebelumnya. Sehingga biaya penggunaan pakan yang sudah turun sebanyak 65% kini sudah bergerak kembali ke posisi 70% --karena kenaikan harga pakan.  
Untuk indukan (brooding), khusus yang memakai gas tarif naik sebanyak 46%. Kenaikan harga juga dirasakan untuk pengguna minyak tanah, ditambah lagi sulit dicari. Akibat kenaikan dua jenis bahan bakar ini, peternak akan kena tambahan 30% biaya operasional. Oleh sebab itu, biaya operasional Rp. 1.000 sekarang sudah sulit diterapkan. Secara umum kini sudah mencapai Rp. 1.200. Yang dimaksud biaya operasional di sini, yaitu : tenaga kerja, penyusutan kandang, pemanas, listrik, sekam.
Dari hasil perhitungan HPP broiler kemitraan yang dibebankan kepada peternak saat ini (akhir Oktober – red), dengan harga pakan Rp. 3.800, DOC Rp. 2.500, operasional Rp. 1.000 dan bobot panen 1,5 kg, berada pada kisaran Rp. 8.500 - 8.800 per kg daging.

Perhitungan ini pun harus disesuaikan dengan bobot ayam panen, karena selisih HPP ayam kecil dan ayam besar cukup lumayan. Ayam kecil (bobot 1 kg) sekitar Rp. 9.100 sementara ayam besar (bobot 1,5 kg) Rp. 8.800 – 9.000.

Walaupun panen kecil dari segi produksi tidak efisien –karena HPP per kg daging lebih besar, namun pasarnya dianggap lebih bagus daripada ayam besar. Apalagi ayam sekarang ini rentan penyakit –sehingga bisa  mengurangi pakan yang terbuang karena ayam mati. Karena pakan ini porsinya 70% HPP, maka panen kecil dianggap paling aman. Pakan yang digunakan tidak banyak  dan yang paling penting memasarkannya pun tidak susah karena pembeli banyak yang berminat di sini.

Namun bagi mereka yang punya segmen pasar ayam besar dan secara kontinyu menjalaninya, pasarnya akan lancar dan mereka merasa nyaman bermain di ayam besar.  Karena apabila dihitung-hitung untung ayam besar juga lebih besar daripada ayam kecil. Pada posisi ini mereka –yang panen ayam besar- bisa mengkompensasi harga DOC ketika tinggi.

Untung kecil-besarBagi pemain ayam kecil seperti Hasanuddin (peternak dari Bekasi) misalnya , keputusan beralih ke ayam kecil diambilnya setelah menganalisa perjalanan bisnis selama beberapa tahun. Dulu kebanyakan peternak tidak mau main ayam kecil karena untungnya kecil. Tapi akhir-akhir ini pemain ayam kecil kian bertambah. Dari perhitungannya, ayam kecil  hasilnya tidak jauh beda dengan yang main ayam besar, karena ayam kecil bisa  8 -10 periode dalam setahun. Jadi untung kecil kalau dikali periode yang lebih banyak hasilnya ya sama. Malah kalau dihitung secara keseluruhan lebih untung karena risikonya lebih kecil, modalnya lebih kecil, dan secara batin pun lebih tenang menjalaninya. 

Lalu, seberapa besarkah keuntungan yang bisa direguk oleh bisnis broiler ini? Berikut kami kutipkan hasil perhitungan Bambang Ismono, seorang peternak mandiri dari Depok –Jawa Barat. Dari beberapa tahun analisa, menurut Bambang, profit margin rata-rata peternak broiler berkisar 3% - 6%  dari omset penjualan. Kalau budidaya biasa-biasa saja ada di angka 3, tapi kalau efisiensi bagus ada di angka 6%. Angka ini kalau diterjemahkan dalam ROI (Return of Investment) identik dengan 45-90%, itu artinya usaha budidaya broiler cukup layak untuk pinjaman bank karena berada di atas bunga bank yang 16% itu. Apalagi modal pribadi tidak harus 100%, sekitar 80% bisa untuk menjalankan usaha ini –karena sapronak bisa mendapat penundaan pembayaran.

HPP akhir  2007Berikut kami tampilkan HPP yang dirangkum dari beberapa peternak di Bodetabek sepanjang Oktober-November 2007. Secara umum, telah terjadi pergeseran HPP dibandingkan tahun 2006, ini terkait dengan meningkatnya harga pakan. HPP di tingkat peternak mandiri pada awal November 2007, dengan asumsi : bobot ayam 1.5 kg, deplesi 5%, harga pakan Rp. 3.800 dan harga DOC Rp. 2500, maka HPP berada pada kisaran Rp. 9.100 – 9.500. Besarnya biaya operasional yang dikeluarkan cukup bervariasi antara Rp. 950 – 1.750, dengan rata-rata berada pada level Rp. 1.100.

Perkiraan HPP pemeliharaan ayam broiler *
Komponen               Biaya (Rp./kg)     Nilai (%)

Pokok                                               90,8
DOC                       1295                   14,16
Pakan                     6460                   70,64
Obat                       300                     3,28


Operasional                                      11,92
Indukan (brooding) 
Gas                        170                    1,88
Minyak tanah           300                    3,29
Batubara                 250                    2,73
Listrik & air              30                     0,33
Tenaga kerja            220                   2,41
Sekam                    110                   1,20
Penyusutan kandang 480                  5,25

*Dihimpun di wilayah Bodetabek pada awal Nopember 2007
HPP yang ditanggung peternak bisa berbeda-beda tergantung kelihaiannya masing-masing. Ini menyangkut posisi tawar peternak terhadap produsen pakan, DOC dan obat. Dan selain itu, sangat dipengaruhi oleh efisiensi biaya operasional dan keberhasilan budidaya (indeks prestasi peternak). Krm








This article comes from Majalah Poultry Indonesia Online
http://www.poultryindonesia.com

The URL for this story is:
http://www.poultryindonesia.com/modules.php?name=News&file=article&sid=1216

Tidak ada komentar:

Posting Komentar